Guardian of the Dafeng Chapter 15 : Sifat Buruk Manusia yang Tak Pernah Berubah Sejak Dahulu Kala

 

Guardian of the Dafeng


Judul asli: 大奉打更人 (Dà Fèng Dǎ Gēng Rén).

Author: 卖报小郎君 (Mài Bào Xiǎo Láng Jūn).

Genre: Xuanhuan (Fantasy), MysteryDetectiveComedyHaremAction

Original link:  Da Feng Da Geng Ren

Source Bahasa Inggris: MyDramanovel

Disclaimer: Saya hanya menerjemahkan konten ini. Hak cipta dan konten asli sepenuhnya milik penulis Asli.

 Terjemahan di Blog ini bersifat fan translation untuk tujuan non-komersial. Semua hak cipta tetap milik penulis dan penerbit resmi. Jika pihak pemilik hak meminta penghapusan atau koreksi, saya akan menindaklanjutinya secepat mungkin.

Translate by: JijiIsFox


----------

Chapter 15 : Sifat Buruk Manusia yang Tak Pernah Berubah Sejak Dahulu Kala


 “Ketiga, kenapa langsung menuduh bahwa kalianlah yang membunuh Zhang Yourui, bukan perampok?

 Kalian menyeret jasad Zhang Yourui ke halaman, berpura-pura seolah itu ulah pencuri, idenya sih sudah bagus. Tapi kalian membuat satu kesalahan.

 Ketika Zhang Yourui mati, tubuhnya tergeletak di halaman dengan kedua kaki mengarah ke rumah, kepala ke luar, luka fatal di belakang kepala. Ini berarti pelaku menyerang dari belakang, menggunakan benda tumpul.

 Itu mustahil jika pelaku benar-benar pencuri. Kalau pencuri melihat pemilik rumah pulang, mereka akan diam dan menahan diri, atau langsung kabur. Mana ada pencuri sengaja menyerang dan membunuh, lalu pulang dengan tangan kosong?”

 Yang Zhenzhen membeku. Ia tak menyangka ada begitu banyak celah dalam rencana mereka..

 Ucapan Xu Qi’an menghantamnya keras. Ia merasa seolah seluruh perbuatannya telah terbongkar habis di bawah sinar matahari, tanpa tempat bersembunyi.

Rasa panik mulai menguasainya.

 “Tak bisa bicara lagi, kan? Zhang Xian juga tak bisa bicara. Maka dia menjualmu. Dia bilang, kamulah yang murahan dan menggodanya. Dia tidak ingin melanjutkan hubungan haram itu, tapi kamu mengancam dengan anak dalam kandunganmu. Malam itu, kamulah yang memukul mati Zhang Yourui saat situasi kacau.

 Zhang Xian menjelaskan dirinya sebagai korban, dan tak bersalah. Tapi dia tahu banyak celah dan sadar tak bisa lolos, dia pun mengaku kepada bupati. Dia bahkan menawarkan lima ratus tael perak untuk melimpahkan semua kesalahan padamu seorang — kau dituduh merencanakan pembunuhan suami mu sendiri.

 Semakin didengar, Yang Zhenzhen makin ketakutan. Wajah cantiknya memucat total ketika tahu dirinya telah dikhianati.

 “Kau pasti paling tahu seperti apa Zhang Xian.” kata Xu Qi'An sengaja.

 Xu Qi'An sebenarnya tidak tahu betul sifat Zhang Xian. Dia hanya tidak percaya hubungan tanpa cinta dan hanya ada nafsu bisa saling setia sampai akhir.

 Terlebih lagi, Zhang Xian anak orang kaya, muda, masa depan cerah dan terjamin penuh. Mengapa harus mengorbankan hidupnya demi seorang perempuan?

 Yang Zhenzhen jatuh ke dalam keputusasaan.

 “Tapi,” Xu melunakkan suara, “Bupati kita orangnya adil dan jujur. Ia tidak langsung percaya pengakuan sepihak Zhang Xian. Ia mengutusku untuk mengonfirmasi. Kalau kau jujur dan mengakui semuanya, Bupati berjanji meringankan hukuman — Kau tidak akan dihukum mati.”

 Yang Zhenzhen mendongak kaget. Air mata langsung menggenang. Ia seperti menemukan seutas tali penyelamat. “Benarkah?”

 Xu mengangguk. “Benar.”

 Melihat pertahanannya mulai runtuh, Xu Qi An segera membuka pintu dan memanggil juru tulis yang menunggu di luar.

 Benteng mental Yang Zhenzhen hancur. Ia mengaku segalanya.

 Memang benar ia berselingkuh dengan anak tirinya, dan mengandung anaknya. Hanya saja, ada sedikit perbedaan dari dugaan Xu Qi An  — bukan dia yang menggoda duluan. Kalau diringkas dalam delapan kata: Si putra tiri makin berani, si putra tiri akhirnya melanggar batas!.

 Zhang Xian sudah lama bernafsu pada ibu tirinya. Saat ia sendirian di rumah, ia masuk memanfaatkan celah. Yang Zhenzhen setengah menolak, setengah menerima.

 Sebagaimana kata pepatah: selingkuh itu cuma enak sesaat, lalu seluruh keluarga masuk krematorium (Hancur). Malam itu, saat rahasia terbongkar, ayah dan anak bertengkar. Zhang Xian mengambil vas dan tak sengaja membunuh ayahnya.

 Untuk menghindari hukuman, dia dan Yang Zhenzhen memalsukan kesaksian, menyamarkanya sebagai perampokan yang gagal.

 Sayangnya, mereka hanya rakyat biasa, bukan kriminal profesional. Celahnya terlalu banyak. Apalagi mereka kebetulan berhadapan dengan Xu Qi’an — cheater hidup yang ahli dalam hal seperti ini..

 Setelah menyelesaikan pengakuan tertulis, Xu Qi An dan juru tulis meninggalkan ruang tahanan.

 Juru tulis senior, yang sudah bekerja di kantor distrik lebih dari dua puluh tahun, menatap Xu dengan penuh rasa kagum. “Tak disangka, waktu tiga hari saja bisa membuat orang berbeda. Setengah hidupku di pengadilan, aku belum pernah melihat cara interogasi seperti ini.”

 Prisoner's dilemma itu sudah pelajaran dasar di dunia modern… cuma kalian orang kuno saja yang heboh.  Xu hanya melambaikan tangan. “Itu hanya trik kecil.”

 Ia sengaja memilih menyerang Yang Zhenzhen, karena ia tak paham hukum dan lemah pikiran — karakter yang sangat umum pada perempuan zaman ini.

 Saat Bupati mengintrogasi tadi, Xu Qi’An  memperhatikannya cukup lama, dan mendapati sifatnya yang lemah dan mudah goyah.
 
 Ide pun muncul.

 Tentu saja ia menipu Yang Zhenzhen. Menurut hukum Da Feng, berzina dan membunuh suami — perempuan dihukum lingchi (disayat sampai mati), sedangkan pria dipancung dan dipamerkan ke publik. Tak ada yang namanya bebas dari hukuman mati.

 Dalam kasus ini, pelaku utama pembunuhan adalah Zhang Xian yang membunuh ayahnya, juga dihukum lingchi. Xu Qi’An tidak peduli bagaimana ia mati. Ia hanya merasa Yang Zhenzhen sebagai komplotan tidak sepenuhnya pantas dihukum mati.

 Meskipun ini berbenturan dengan pandangan hukumnya di kehidupan sebelumnya.

 “Setiap zaman punya aturannya sendiri. Mengikuti arus adalah cara untuk bertahan hidup.” Ia menenangkan dirinya sendiri.

 Setelah melihat pengakuan Yang Zhenzhen, Zhang Xian tak bisa lagi mengelak, dan menyerah total.

 Xu Qi'An membawa kedua pengakuan itu ke balai dalam.

 Bupati Zhu sedang memegang teh di kiri dan buku di kanan. Ia menunduk membaca, lalu menoleh saat Xu QiAn masuk. Dia meletakkan buku dan tehnya “Bagaimana?”

 Xu Qi'An meletakkan dua berkas di atas meja. “Aku tidak mengecewakan anda Tuan.”

 Zhu langsung meraihnya, mengguncang kertas, lalu membaca dengan teliti. Seketika ia memukul meja, murka. “Biadab! Tak tahu malu!"

 Ia merasa pandangan hidupnya sebagai sarjana hancur.

 Sesaat setelah meluapkan amarah, ia menatap Xu Qi'An— rasa puas dan kagum meningkat pesat.

 “Ningyan, atas keberhasilan ini akan ku ingat jasamu, Kerja bagus.”

 "Itu semua berkat bimbingan Anda, Tuan. Saya hanya mengambil beberapa keterampilan sepele dengan melakukan pengamatan," Xu Qi An menjilatnya.

 Bupati sangat senang.

 Menjelang sore, tugas selesai. Kepala Wang mengumumkan akan mentraktir minum, membawa Xu QiAn dan delapan anggota tim respons cepat ke kedai arak.

 Harga stabil di negara berbasis perak — satu qian saja bisa memesan meja besar di restoran mewah. Apalagi hanya kedai.

 Karena deduksi dan interogasi yang mengesankan, Xu QiAn jadi pusat perhatian. Bahkan Kepala Wang minta dia bercerita tentang teknik interogasi barusan.

 "Wanita itu memiliki karakter lemah dan tidak tahan intimidasi. Tidak ada yang istimewa," kata Xu Qi An, seperti orang berpengalaman, tidak pernah membanggakan dirinya sendiri atau menjauhkan diri dari kelompok. Tapi Kepala Wang dan rekan-rekannya merasa tertarik, merasa seolah-olah dunia baru telah terbuka bagi mereka.

 Mereka dengan antusias bersulang dan menuang arak untuk Xu Qi An.

 Setelah beberapa putaran minuman, percakapan di antara para pria tak terhindarkan beralih ke rumah bordil dan tempat-tempat serupa lainya.

 Kali ini, Kepala Wang jadi bintangnya. Ia menepuk bahu Xu Qi’An. “Ningyan, malam ini aku ajak kau ke tempat hiburan. Saatnya kau ‘makan daging' (kehilangan keperjakaan).”

 Semua tertawa nakal. Mereka tahu Xu Qi’An masih perjaka.

 “Kepala yang traktir?”

 “Itu bisa tiga tael loh.” Kepala Wang langsung menolak.

Oh.. Jadi dia tidak mentraktir ku? Xu QiAn berkata tenang namun tegas: “Aku bukan tipe orang seperti itu.”

 Kalau aku hilang keperjakaan, mana bisa masuk tahap kultivasi Qi?

 Budaya rumah hiburan di Da Feng penuh ‘pengetahuan’. Xu QiAn mendengarkan dengan serius, sambil menganalisis dalam hati:
 goulan = rumah pelacuran kelas rakyat

 qinglou = versi mewah untuk pejabat dan saudagar kaya

 Dalam istilah modern: Tempat pijat plus-plus dan executive club.

 Dalam budaya hiburan Da Feng, tak bisa lepas dari Departemen Jiaofang — lembaga pelatihan wanita, Biro Musik Kekaisaran.

 “Kau belum lihat wanita Jiaofang. Cantiknya… kulit bening halus, di cubit pun keluar air.” kata Kepala Wang penuh takjub.

 “Awal tahun lalu, aku ikut ke sana dengan Wakil Bupati. Aku beruntung bisa melihat nona Fuxiang — kecantikannya… luar biasa…”

 “Siapa Fuxiang?” tanya Xiao Li. “Kepala,apakah kamu tidur dengannya?”

 “Fuxiang itu bunga utama Jiaofang. Malam itu, kalau bukan karena sudah ada tamu resmi, pasti sudah kuajak masuk kamar.” Kepala Wang berbohong level dewa.

 “Berapa bayaranya semalam?” Xu Qi'An langsung tertarik.

“30 tael.”

 Xu Qi'An langsung menyodorkan kacang tanah. “Ketua, makan ini dulu. Kau kayaknya mulai mabuk.”

 Ini harga emas tempel ya?! (harga yang tidak masuk akal) 30 tael bisa beli beberapa selir langsung tinggal di rumah, dan bisa main tiap hari! 

 Sial… dari dulu sampai sekarang, kebusukan manusia yang tak pernah berubah adalah: MENGGELEMBUNGKAN HARGA!!!.

 Cuma orang sinting yang rela bayar sebanyak itu untuk tidur dengan bunga utama Jiaofang.

Komentar