Guardian Of The Dafengs Chapter 7: Adik Ini Cantik Sekali

 

Guardian of the Dafeng


Judul asli: 大奉打更人 (Dà Fèng Dǎ Gēng Rén).

Author: 卖报小郎君 (Mài Bào Xiǎo Láng Jūn).

Genre: Xuanhuan (Fantasy), MysteryDetectiveComedyHaremAction

Original link:  Da Feng Da Geng Ren

Source Bahasa Inggris: MyDramanovel

Disclaimer: Saya hanya menerjemahkan konten ini. Hak cipta dan konten asli sepenuhnya milik penulis Asli.

 Terjemahan di Blog ini bersifat fan translation untuk tujuan non-komersial. Semua hak cipta tetap milik penulis dan penerbit resmi. Jika pihak pemilik hak meminta penghapusan atau koreksi, saya akan menindaklanjutinya secepat mungkin.

Translate by: JijiIsFox


----------

Chapter 7: Adik Ini Cantik Sekali



 “Ning Yan?” Xu Pingzhi tertegun.

 Air mata Li Ru masih membekas di pipinya, ekspresi senangnya membeku.

 “Dua hari lalu, Xu Qi'An berteriak-teriak di sel penjara bahwa ia harus menemui Bupati, mengatakan ada petunjuk penting yang harus dia laporkan. Tak lama setelah itu, Bupati berhasil memecahkan kasusnya. Menurut hukum Da Feng, menebus kesalahan dengan jasa secara langsung membebaskanmu dari kesalahan,” jelas juru tulis.

 “Be-begitu ya…” Xu Pingzhi terbata-bata. Dia mengambil Xu Qi'An ketika dia masih anak-anak, seukuran anak kucing. Mana mungkin dia tidak tahu seperti apa keponakannya itu?

 Xu Pingzhi curiga juru tulis itu berbohong, tetapi dia tidak memiliki bukti.

 Keponakan ku yang brengsek itu… Wajah Li Ru pucat.

 Bukankah putra merekalah yang menyelamatkan seluruh keluarga?

 Bagaimana mungkin itu keponakanya yang kurang ajar? Bukankah dia di penjara?

 Dengan rasa bingung, Xu Pingzhi memimpin istri dan putri-putrinya keluar dari pintu belakang yamen, dan mereka melihat Xu Qi'An dengan cemas menunggu, sambil berusaha merapikan rambutnya yang acak-acakan.

 Begitu melihat keponakannya, keraguan yang ada di hatinya tiba-tiba tampak tidak penting. Pria dengan latar belakang bela diri itu merasakan kehangatan mengalir di hatinya, matanya memerah. Dia melangkah maju, awalnya ingin memeluk keponakannya, tetapi itu terlalu sentimental dan tidak mau kehilangan harga dirinya, dia justru memberikan tepukan ‘hangat’ di bahunya. 

 “Ning Yan, bagus sekali!”

 Dia hampir mengirim Xu Qi'An ke alam baka dengan tepukan itu.

 “Paman Kedua, kau berada di puncak Pemurnian Qi. Kita terpaut satu tingkat,” kata Xu Qi'An dengan santai, tidak terdengar asing sama sekali.

Dia terkejut dengan keharmonisan ini, dan pada saat yang sama, ia melihat dari bahu Paman Keduanya, dia melihat tiga wanita di belakangnya.

Hei, Bibi, kau nampak menyedihkan hari ini… Pikiran ini muncul begitu saja.

 Perasaan senang atas kesulitan orang lain (Schadenfreude) itu tidak bertahan lama, karena ia teralihkan oleh kecantikan adik sepupunya ini.

 Gadis muda itu mengenakan pakaian penjara yang longgar, rambutnya yang berantakan terurai di sekitar wajah ovalnya yang cantik klasik. Hidungnya yang tinggi dan lurus memberikan kesan kecantikan tiga dimensi wanita ras campuran pada pandangan pertama.

 Terlebih lagi, di usia ini, dia berada dalam keadaan paling murni dan polos, menyatu menjadi pesona yang sulit untuk dialihkan.

 Waw, aku punya saudara perempuan secantik ini. Xu Qi'An terkejut.

 Dalam ingatan pemilik aslinya, penampilan saudara perempuannya cukup samar, mungkin karena dia tidak terlalu memperhatikan. Dan karena bibinya, ada sedikit rasa bersalah secara tidak langsung.

 Dia tidak terlalu ramah kepada sepupu-sepupunya.

 Menyadari pandangan tajam kakaknya, Xu Lingyue dengan malu-malu memanggil ‘Kakak’ dan menundukkan kepala sedikit malu.

 “Kakak!” Tiba-tiba, terdengar suara teriakan.

 Xu Lingyin yang baru berusia lima tahun, masih sangat mungil, berlari kecil dan tiba-tiba berhenti di depan Xu Qi'An, menatapnya dengan penuh harap.

 Xu Qi'An melambaikan tangannya. "Aku tidak punya permen untukmu. Aku jugi baru saja keluar dari penjara."

 Perlu diketahui bahwa meskipun pemilik tubuh asli tidak menyukai sepupu-sepupunya, dia cukup baik kepada adik perempuan termuda ini karena penampilannya tidak menurun dari ibunya.

 "Penjara itu apa?"

 "Itu tempat kamu tidur beberapa hari terakhir ini."

 "Kalau kakak yang satunya? Dia bawa permen tidak?"

 "Dia tidak datang."

 "Oh." Si kecil tampak kecewa. Kakak lain yang dia sebut adalah Xu Xinnian, kakak kandungnya, meskipun dia belum tahu perbedaan antara sepupu dan saudara kandung.

 Adik perempuan ini tidak terlalu pintar, hanya anak kecil yang polos. Dia pasti mewarisi itu dari ibunya... Itulah yang dipikirkan pemilik tubuh asli.

 Akhirnya, dia melihat bibinya, Li Ru. Wanita ini, yang selalu bersikap superior terhadap Xu Qi'An, mungkin tidak pernah membayangkan akan ada hari di mana dia harus berterima kasih dengan rendah hati kepada keponakannya yang malang.

 Wanita cantik itu dengan kaku memalingkan kepalanya, dengan enggan berkata, "Te-terima kasih, Ning Yan..."

 Pada saat itu, kenangan samar muncul di benak Xu Qi'An.

 Dulu ketika bibinya mengusirnya ke halaman kecil di sebelah kediaman Xu, Xu Qi'An sangat marah, bersumpah kepada langit: "Aku, Xu Qi'An, akan menjadi orang sukses di masa depan. Jangan sampai kau menyesal!"

 Mengingatnya sekarang, rasanya sangat memalukan. Bukankah ini berarti bibiku justru menjadi contoh nyata dari orang yang 'meremehkan pemuda miskin'?

 Sekarang, Xu Qi'An melihat hubungan antara pemilik tubuh asli dan bibinya dari perspektif pihak ketiga yang objektif. Itu bukan sepenuhnya kesalahan wanita cantik itu.

 Latihan bela diri Xu Qi'An menghabiskan lebih dari seratus tael perak setiap tahun. Ini setara dengan tabungan dua puluh atau tiga puluh tahun untuk keluarga biasa, dan itu pun untuk rumah tangga yang berkecukupan.

 Wajar jika bibinya merasa kesal. Jadi Xu Qi'An berkata dengan tulus, "Bibi, jangan buru-buru berterima kasih. Tunggu sampai kita pulang dan makan dulu, lalu katakan lagi."

 Li Ru segera membelalakkan matanya yang besar ala iklan Maybelline, menatap keponakannya yang menyedihkan itu.

 Xu Pingzhi merasa kepalanya berdenyut-denyut dan berkata dengan suara berat, "Ayo pulang dulu!"

—------


 Xu Xinnian tersandung-sandung kembali ke kediaman Xu sambil membawa sekendi anggur. Rumah tempat dia tinggal selama sembilan belas tahun sekarang telah disegel di gerbang utama dan kosong, terlihat cukup menyedihkan.

 Xu Xinnian menendang membuka gerbang utama, melangkahi ambang pintu, terhuyung-huyung beberapa langkah, lalu berbalik untuk menutup pintu.

 Menggantung diri bukanlah hal yang mulia, juga tidak pantas bagi martabat seorang sarjana seperti dirinya. Jadi, dia tidak ingin menarik perhatian para petugas.

 Dia harus menjaga harga dirinya.

 Dia berjalan dari halaman luar ke halaman dalam, seolah berjalan melalui kehidupan yang panjang.

 Pada usia tiga tahun, dia mengenali karakter; pada usia lima, dia melafalkan puisi; pada usia sepuluh, dia menguasai kitab-kitab suci para filsuf. Pada usia empat belas, dia memasuki Akademi Cloud Deer (云鹿书院 - Yún Lù Shūyuàn) untuk belajar. Pada usia delapan belas, dia menjadi Calon Sarjana Terpilih.

 Tidak berlebihan jika dia disebut berbakat. 

 Kecerdasan dan pengetahuannya membentuk kepribadiannya yang membanggakan.

 Dia selalu dibanggakan di depan keluarganya, masa depan cerah, dan mulia, pilar masa depan keluarga Xu.

 Sebagai pria, dia lebih baik mati dengan terhormat  daripada hidup dalam penghinaan.

 Sambil memikirkan hal ini, Xu Xinnian menghabiskan kendi anggur di tangannya dan menghempaskannya ke tanah.

 Dalam keadaan mabuk, dia bergegas ke kamarnya, menggiling tinta, mengambil kuas, dan menuliskan puisi perpisahan paling indah dalam hidupnya.

 Xu Xinnian tertawa terbahak-bahak tiga kali, meraih kertas xuan¹ itu, dan bergegas keluar, mengambil tali rami yang sudah disiapkan dan menggantungnya di pohon ginkgo di halaman dalam.

 Dia terkejut karena dia tidak takut sama sekali menghadapi kematian. Dia hanya merasakan kebebasan yang belum pernah ada sebelumnya.

 Tiba-tiba, ia memahami para cendekiawan yang bebas dan unik itu. Saat seseorang tidak lagi takut kehilangan apapun, barulah ia dapat memandang dunia.

 Jika seseorang tidak takut mati, apa lagi yang perlu ditakuti di dunia ini?

—-----------

 Beijing sangat makmur, dan terkenal sebagai kota yang paling berbudi di dunia.
Xu Qi'an perlahan-lahan berjalan melewqti kota kuno yang ramai ini. Kereta mengalir bagai air, kuda laksana naga. Ruko-ruko berjejer di kedua sisi jalan, dengan bendera dan spanduk berkibar tertiup angin.

Sebaris puisi tanpa sengaja terlintas dalam pikirannya: "Pohon willow yang rimbun, jembatan yang dicat, tirai yang ditiup angin berwarna hijau giok, sepuluh ribu rumah dalam susunan yang beragam."

 Beijing bahkan lebih makmur daripada Qiantang yang digambarkan dalam puisi tersebut. ‘Da Feng: Catatan Geografis’ mencatat, Pada tahun-tahun awal era Yuanjing, populasi ibu kota lebih dari 1,96 juta.

 Sekarang adalah tahun ke-36 Yuanjing.
Populasi Beijing seharusnya telah melebihi dua juta saat ini.

 Kediaman keluarga Xu memiliki tiga halaman, depan dan belakang, dan mempekerjakan tujuh atau delapan pelayan dan pembantu. Sekarang para pelayan dan pembantu telah diberhentikan, gerbang utama dikunci, dan tempat itu kosong.

 Bibi Li melirik plakat di atas gerbang utama, perasaannya campur aduk. "Aku tidak tahu bagaimana kabar Xinnian. Dia pasti sangat khawatir tentang kita. Sebelum kita dipenjara, dia berkata akan mengeluarkan kita." Dia berbicara sambil berjalan masuk.

 Harga properti di Beijing mahal. Kediaman tiga halaman ini akan menghabiskan setidaknya 5.000 tael perak. Uang muka 30% akan menjadi 1.500 tael... Ah, mengapa aku masih memikirkan harga properti bahkan di dunia lain? Xu Qi'an mencibir.

 Xu Pingzhi menghiburnya, "Xinnian  sangat memahami kitab-kitab klasik, sifatnya teguh dan bisa diandalkan. Dia pasti sedang berusaha mati-matian untuk kita sekarang. Ketika dia kembali, kita akan memberinya kejutan."

 Ini buruk…

 Ekspresi Xu Qi'an berubah. Dia tahu bahwa Xu Xinnian berencana untuk mengakhiri hidupnya.

 Di mata Paman dan Bibinya, Xu Xinnian adalah orang yang teguh, serius, kuat, dan dapat diandalkan, seorang sarjana yang pantang menyerah.

 "Hahaha, aku, Xu Xinnian, hidup sebagai orang merdeka dan akan mati sebagai hantu yang pantang menyerah.
Xu Xinnian, berbakat tiada tara, namun langit tidak adil.
Jika langit tidak melahirkanku, Xu Xinnian, Da Feng akan berada dalam malam abadi..."

 Di bawah pohon ginkgo, sarjana yang berdiri di atas kursi tiba-tiba melepas penutup kepalanya dan melemparkannya, menggelengkan kepalanya dengan kuat, rambutnya berantakan.

 Dia tidak terkekang,liar dan bebas. Dia memasukkan kepalanya melalui lingkaran tali dan kemudian melihat keluarganya, ekspresi mereka membeku dan mata mereka kosong.

Aku, Xu Xinnian, telah hidup dengan kebebasan dan tidak terkekang... Xu Xinnian berbakat tiada tara, namun langit tidak adil... Jika langit tidak melahirkanku, Xu Xinnian, Da Feng akan berada dalam malam abadi..

 Melihat keluarganya yang kembali tanpa diduga, Xu Xinnian merasa dia seharusnya mati selangkah lebih cepat.

Catatan :

Kertas xuan : (宣纸 - Xuānzhǐ) adalah jenis kertas tradisional Tiongkok yang terkenal dan highly valued, khususnya digunakan untuk kaligrafi dan lukisan tradisional Tiongkok. (Source : Deepseek) 

Komentar